Home » » Hafal Quran 2 bulan

Hafal Quran 2 bulan

Written By PROFIL RUMAH QURANI INDONESIA on Selasa, 05 Januari 2010 | 16.14.00

Deden Mukhtaruddin
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam. Yang menurunkan Al-Quran dan memudahkannya untuk dihapalkan dan dipahami. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Agung yang diutus sebagai rahmat bagi semesta raya, dan kepada keluarganya dan shahabat-shahabatnya yang dalam dadanya tersimpan ayat-ayat suci yang nyata. Amma Ba’d:
Telah lama aku ingin menuliskan pengalamanku dalam menghapal Al-Quran, tetapi aku takut tulisanku ini berlebihan sehingga menimbulkan fitnah. Aku terus menyimpannya dalam hati hingga datang kepadaku suatu keyakinan yang nyata bahwa akan banyak manfaat jika aku menuliskannya. Keyakinan itu muncul dari permintaan sebagian teman dan kemunculan kitab At-Tahadduts Binni’mah karya Imam As-Suyuthy. Dalam kitab tersebut, Imam As-Suyuthy menuliskan prestasi-prestasi yang telah diraihnya dalam bidang keilmuan dan memuji tulisan-tulisannya yang mencapai 600 judul kitab. Maka, dengan memanjatkan syukur tertinggi kepadaNya, inilah pengalamanku.

Setelah menyelesaikan pasaran kitab Tafsir Maroh Labid di Pesantren Raudlatul Muta’allimin Cijambe Cianjur, kedekatan hatiku dengan Al-Quran semakin terasa, tetapi langkahku masih saja terasa kaku, hingga akhirnya aku diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk singgah di Cilaku Cianjur. Di sana aku belajar Al-Quran kepada pamanku, H. Achmad Basyir Fachmi. Beliau adalah seorang hafizh Al-Quran yang ahli qiroat. Ketika aku melihatnya, aku seperti akan mampu mengkhatamkan Al-Quran. Aku sering menyimak bacaan beliau pagi dan petang. Suatu ketika beliau bercerita tentang kehebatan para hafizh dalam menghapal Al-Quran. Di antara mereka ada yang mengkhatamkan hapalan Al-Quran dalam dua tahun, ada yang satu tahun, ada yang tujuh bulan, ada yang enam bulan, dan bahkan ada yang empat bulan. Beliau pernah menyebutkan salah satu nama mereka, yaitu ustadz H. Asep Ismail, seorang mufassir dari Bandung yang penomenal karena sering menjuarai musabaqoh tafsir tingkat Jawa Barat. Aku sangat kagum mendengar cerita-cerita itu hingga keyakinanku untuk dapat menghapal semakin kuat.
Semakin bertambah hari, keinginanku untuk menghapal Al-Quran kian mendalam, tetapi setiap kali membuka mushaf aku selalu ragu, apakah aku akan mampu mengkhatamkannya dan menjaganya ataukah tidak. Keraguan itu terus menyusup ke dalam hatiku, hingga pada suatu hari, Juni 2002 M, ketika matahari berada persis di pusat bumi, di sebuah musholla kecil, aku memberanikan diri meminta idzin kepada pamanku agar bersedia menerima setoran hapalan Al-Quran dariku setiap hari dan sekaligus memberikan bimbingan dan arahan untukku. Mendengar permintaanku itu, pamanku tampak senang. Ia memberiku dukungan yang besar dan mendoakanku dengan khusyu’. Ketika itu, beliau menyarankan agar aku menghapal setiap harinya sebanyak seperempat juz agar dapat khatam dalam empat bulan. Maka, dengan tawakkal kepada Allah SWT, aku menyanggupinya padahal dalam hati aku belum yakin kalau aku dapat menyetor sebanyak itu setiap hari. Namun perlahan-lahan hatiku sedikit tenang ketika paman meyakinkanku bahwa aku, insyaallah, akan mampu menyelesaikannya dengan baik, karena menurutnya, aku telah banyak mempunyai pengalaman yang cukup dalam menghapal.
Memang, ketika kecil, belum baligh, aku pernah berhasil mengkhatamkan hapalan kitab Alfiyah dalam waktu 40 hari, kitab Sullamul Munauroq dalam waktu 1 hari, kitab Al-Jauharul Maknun dalam waktu 2 hari, kitab Nazhm Al-Maqshud dalam waktu 1 malam, dan kitab ‘Imrithy dalam waktu 1 hari. Bahkan aku pernah mampu menghapal kitab Zubad sebanyak lima bait per-satu menit. Kitab-kitab itu kalau disatujilidkan maka tebalnya sudah setebal mushaf Al-Quran. Aku bersyukur kepada Allah SWT atas kelebihan yang telah diberikan kepadaku ini. Karena itu, aku yakin kalau aku bisa menghapal Al-Quran meskipun tidak akan secepat dulu. Karena itu, selama menghapal Al-Quran, aku harus lebih rajin dan giat, menghindari maksiat, dan menambah rakaat.
Tanpa menunggu waktu lagi, siang itu pula aku mulai membuka mushaf dengan niat bulat dan kuat. Pikiranku tertuju kepada juz ‘Amma, maka yang pertama kali aku buka adalah halaman pertama dari surat An-Naba. Aku membaca surat itu seayat demi seayat dengan pengulangan minimal tiga kali untuk satu ayat sampai selesai satu surat. Namun, tidak dapat aku menduga sebelumnya, ketika ayat terakhir dari surat itu selesai dihapal, maka ayat-ayat sebelumnya nyaris tidak tergambar dalam hati seolah-oleh tadi belum pernah hapal. Ini musibah bagiku. Aku tidak biasanya mengalami hal seperti ini. Aku terus mencoba mengulang-ulangnya hingga aku tidak dapat menghitung lagi jumlah pengulangannya. Namun, surat itu tidak kunjung lancar juga, selalu saja ada yang keliru dalam menyambungkannya hingga aku kelelalahan. Aku berfikir, ini surat An-Naba, sulitnya sudah begini, bagaimana yang akan terjadi dengan surat-surat yang lain di juz-juz yang lain. Sahabat!, sungguh aku tidak bisa membayangkan. Aku menghela nafas dalam-dalam, air mataku meleleh, hatiku menjerit:
“Ya Allah, berilah aku cahaya dari setiap huruf Al-Quran yang aku lihat dan aku lafazhkan”.
Karena sudah kelelahan, akhirnya aku menghentikan kegiatan menghapal, selain itu waktu pun sudah memasuki ashar. Aku memperbaharui wudhu kemudian shalat berjamaah di mushalla tempat aku melangsungkan kegiatan menghapal. Selepas shalat ashar aku melihat-lihat pemandangan di belakang mushalla. Angin sore mebelai padi yang terhampar hijau laksana kehidupan. Sambil bersandar ke pohon jambu tua, aku menyusun strategi untuk melanjutkan hapalan. Rupanya, setelah kesulitan yang melanda saat menghapal surat An-Naba, aku menjadi segan membuka mushhaf. Maka, aku memutuskan, bahwa aku akan memulainya lagi esok pagi dengan surat Al-Baqoroh. Aku membagi waktu dan membuat jadwal tertulis untuk dijalankan selama menghapal Al-Quran.
Pagi, dari subuh hingga matahari dhuha bersinar terang (kira-kira jam 8: 30) aku bekerja membantu orang rumah. Dari dhuha hingga waktu qoilulah (kira-kira jam 11:00) aku menghapal. Setelah shalat Zhuhur aku setoran hapalan Al-Quran lalu istirahat. Ashar membaca buku. Maghrib berbuka puasa. Dan Isya bersantai sambil mengulang hapalan kemudian tidur. Ketika itu aku yakin bahwa jadwal yang telah dibuat sudah sangat ideal.
Keesokan harinya, setelah sholat dhuha sekitar jam 09:00 pagi, aku mulai membuka mushaf sambil menghadap ke arah qiblat. Aku melafazhkan surah Al-Fatihah dengan penuh penghayatan dan mengharap petunjuk kepada jalan yang lurus. Kemudian tibalah surat Al-Baqoroh. Aku menajamkan penglihatan kepada halaman itu untuk menentukan dan mengingat-ingat posisi ayat, halaman, baris, dan huruf. Aku berusaha kuat merekam setiap gambar yang dilihat oleh mata ke dalam otak, kemudian aku melafazhkan apa yang telah aku lihat itu di dalam hati dengan mata terpejam. Lima ayat dari awal surat Al-Baqoroh adalah bonus bagiku, karena sebelumnya telah hapal. Aku meningkatkan konsentrasi dari ayat enam sampai ayat yang terdapat pada akhir halaman. Aku memandang ayat demi ayat dengan penuh konsentrasi, perenungan makna, dan memperhatikan kedudukan kalimat dan munasabah. Aku memejamkan mata setiap kali selesai memandang satu ayat atau dua ayat tergantung panjang dan pendeknya ayat itu, kemudian membacanya dalam hati. Setelah berlalu beberapa menit, tanpa disadari aku telah selesai satu halaman. Kemudian aku mengulangnya dari atas dengan mata terpejam, subhanallah, seperti ada cahaya yang sangat terang, aku dapat membacanya tanpa ada sedikit pun kesalahan. Aku melanjutkan hapalan ke halaman berikutnya dengan menambah sedikit kecepatan dan kehati-hatian. Sangat luar biasa, aku merasakan ada cahaya lebih terang dari sebelumnya yang menampilkan gambar ayat sangat cepat di hatiku, sehingga aku dapat menghapal setiap ayat hanya dalam sekali pandang, dan semakin lama semakin cepat, hingga tanpa terasa aku telah menyelesaikan dua halaman mushafku atau setara dengan dua setengan halaman mushaf qudus. Itu berarti aku telah hapal seperempat juz. Aku segera mengarahkan ingatan ke awal surat Al-Baqoroh untuk mengulang. Aku membacanya secara perlahan, karena aku khawatir gambarnya akan menjadi kabur. Ternyata, subhanallah, aku dapat mengulangnya dengan mulus tanpa kesalahan. Kemudian aku melihat jam yang terdapat di dinding musholla untuk mengukur seberapa cepat aku menghapal seperempat juz Al-Quran. Setelah aku melihatnya, aku mengira jam di mushollah itu mati, karena jarum jam hanya bergerak beberapa menit saja, padahal aku merasa sudah lama, yaitu sedikitnya telah berlalu 30 menit. Namun yang terjadi kurang dari sepuluh menit. Kemudian aku mencoba memasuki alam menghapal lagi untuk membuktikan bahwa aku dapat menghapal dengan cepat. Ternyata memasuki alam menghapal tidak mudah, kali ini aku tidak mudah mendapatkan konsentrasi, tapi akhirnya aku hanyut juga di alam qurani itu. Ayat demi ayat aku lalui, halaman berganti lembar, akhirnya aku selesai juga menghapal setengah juz berikut pengulangannya dari halaman pertama meskipun waktu yang dibutuhkan lebih lama dari yang seperempat juz pertama. Saat itu waktu menunjukan jam 9:30. Aku bahagia, ini rupanya yang dimaksud dengan kemudahan dari Allah SWT yang menjadi salah satu keistimewahan Al-Quran. Aku berfikir, kalau terus menerus seperti ini, aku insyaallah dapat menghapal minimal 2 juz sehari, karena aku mempunyai waktu 2 jam untuk menghapal dalam sehari.
Aku mencoba meneruskan hapalan. Tetapi terbersit di dalam hati bahwa sebaiknya aku menghentikannya, karena aku takut otak kelelahan, sehingga keesokan harinya tidak dapat menghapal sebanyak hari ini. Aku ingin istiqomah. Perinsipku hapalan hari esok tidak boleh lebih sedikit dari hari ini, bahkan harus lebih banyak, dan hapalan yang sudah didapat tidak boleh lupa lagi, bahkan harus bertambah lancar. Maka, meski hati belum puas dengan setengah juz, aku berkomitmen bahwa hapalan yang harus didapatkan setiap hari adalah setengah juz. Dengan demikian, aku mempunyai banyak waktu kosong untuk melakukan pengulangan ketika hapalan telah banyak, dan otak pun tidak merasa terbebani.
Setelah sholat zhuhur aku menyetorkan hapalan kepada pamanku. Waktu itu, ada seorang teman yang juga menyetorkan hapalannya kepada beliau. Ia suka aku panggil dengan nama Mang Saef (bukan nama aslinya). Kami setor bergantian. Aku meminta agar Mang Saef setor duluan, karena aku kurang percaya diri jika bacaanku didengar olehnya, karena suaranya lebih bagus dari pada suaraku. Setelah Mang Saef setor, aku mengira dia akan pergi, ternyata ia menungguku, akhirnya terpaksa aku menyetor dan membiarkan suaraku didengarkan olehnya. Alhamdulillah, setorku lancar. Tapi aku hanya menyetorkan hapalan seperempat juz, bukan setengah juz, karena aku hanya dipinta menyetorkannya sebanyak itu, tidak lebih. Tetapi, setelah selesai setor aku meminta agar besok aku diidzinkan setor setengah juz. Beliau mengabulkan permintaanku dengan syarat aku harus menyetorkannya setiap hari dengan jumlah tetap, tidak boleh kurang. Aku pun menyanggupinya.
Pada hari kedua, Mang Saef meminta agar jumlah setoranku disamakan dengan setorannya, yaitu seperempat juz biar khotamnya bareng. Aku tahu Mang Saef butuh teman, tetapi aku tetap dalam pendirianku. Hari itu aneh. Ketika aku setor setengah juz, Mang Saef malah menyetorkan satu lembar, lebih sedikit dari hari kemarin dan dari jumlah yang ia tawarkan kepadaku. Ia sempat bertanya kepadaku tentang metode menghapal dengan baik, tetapi aku tidak dapat menjelaskannya, karena aku pikir ia lebih berpengalaman dariku dalam bidang Al-Quran. Ia seorang qori dan umurnya pun jauh lebih tua dari pada aku. Dan pada hari ketiga, ia resmi berhenti menghapal Al-Quran.
Hari bergulir, minggu berganti, tak terasa aku sudah tiga puluh hari menghapal Al-Quran. Ketika itu hapalanku sudah sampai kepada akhir surat Al-Kahfi meskipun belum semuanya tersetorkan, karena pamanku banyak kesibukan di luar sehingga jarang ada di rumah. Tetapi jauh-jauh hari beliau sudah berpesan kepadaku bahwa kalau hapalanku banyak dan lancar maka tidak harus disetorkan. Kalau mau disetorkan, nanti saja setelah khotam.
Selama 30 puluh hari itu, aku menghapal di dua tempat, yaitu di mushollah dan di belakang rumah. Di sana terdapat kolam yang teduh oleh rindang pohon belinjo dan kelapa. Meskipun airnya tidak terlalu jernih, tetapi cukup membuatku tenang sehingga konsentrasi dapat tercapai dengan baik. Aku menghapal tanpa menggunakan suara. Aku hanya menajamkan penglihatan, dan membacanya dalam hati lalu merekamnya. Aku menghabiskan waktu kosong setelah selesai menghapal dengan membaca buku. Kadang aku menonton pertandingan bola yang ketika itu sedang berlangsung piala dunia di Korea dan Jepang tahun 2002, sehingga aku merasa rileks.
Untuk menjaga hapalan, aku menggunakan tiga metode pengulangan, yaitu
1. Tadzkir, pengulangan dengan bacaan cepat di mana sekali duduk dapat 10 juz. Metode ini dikerjakan dengan cara membayangkan ayat-ayat dalam hati tanpa diucapkan. Dengan metode ini aku dapat menyelesaikan takrir satu juz dalam waktu kurang lebih lima menit. Metode ini tidak mudah, karena membutuhkan konsentrsi yang maksimal, dan menjadikan otak cepat lelah.
2. Talfizh, pengulangan dengan bacaan sedang dan dengan suara yang lantang. Talfizh ini dikerjakan sebanyak setengah sampai 1 juz setiap selesai melaksanakan sholat lima waktu. Hal ini bertujuan mengevaluasi hapalan, karena kalau hanya terbaca dalam hati, dikhawatirkan banyak kalimat yang keliru.
3. Tanzhir, pengulangan dengan cara dilihat terlebih dahulu kemudian diucapkan dengan suara yang lantang. Tanzhir diterapkan khusus kepada ayat-ayat yang biasanya sering lupa atau keliru, atau mengulang hapalan yang baru. Karena itu, metode tanzhir ini disesuaikan dengan kebutuhan.
Menginjak juz 16, keadaan di Cilaku sudah tidak kondusip lagi. Aku merasa butuh tempat baru untuk dapat berkonsentrasi dengan maksimal. Kemudian aku pindah ke Cijambe, tempat kelahiranku dan pamanku. Di sana aku melanjutkan hapalan di kuburan kakekku, yaitu KH Muhammad Maghfur pada hari ke 31. Aku memulainya dari surat Maryam. Metode yang aku terapkan di Cijambe tidak ada yang berbeda dengan metode yang aku terapkan di Cilaku. Hanya saja di Cijambe aku lebih fokus, karena tidak berbenturan dengan kegiatan wajib yang lain. Selain di kuburan, aku sering menyendiri di masjid atau di tempat sepi tepi sungai. Aku membagi hari ke dalam dua bagian, hari untuk menambah hapalan, dan hari untuk mengulang hapalan, sehingga aku lebih leluasa menggunakan waktu, baik ketika menambah maupun ketika mengulang. Namun, konsekwensi yang aku ambil adalah aku harus menambah hapalan dua kali lipat lebih banyak dari pada di Cilaku, yaitu menjadi satu juz perhari, karena aku tidak menambah hapalan setiap hari. Alhamdulillah, aku dapat mencapai target itu.
Kadang aku merasa aneh. Biasanya aku memulai menghapal setelah sholat shubuh, kadang sebelum matahari terbit aku sudah selesai menghapal satu juz, dan kadang setelah waktu dhuha baru selesai. Ketika itu aku merasa tenang dan tidak terbebabni sehingga aku belum pernah merasa lelah dan capek.
Rata-rata aku menyelesaikan hapalan satu juz dalam waktu satu jam, tapi kadang-kadang kurang, dan kadang-kadang lebih. Ketika aku selesai menambah hapalan satu juz di waktu pagi, maka waktu sesisanya hingga malam hari aku gunakan untuk mengulang-ulang yang satu juz itu hingga benar-benar jinak di lidah.
Tapi. ada pengalaman menarik yang membuat aku harus menguras tenaga habis-habisan. Pada hari ke 49 aku menghapal juz 25 yang dimulai dari akhir surat Fushshilat. Aku menghapal seperti biasanya hingga ketika waktu dhuha tiba juz itu telah selesai. Namun ketika aku mengulangnya, gambar yang terekam dalam hati berantakan. Banyak ayat yang lupa dan keliru hingga aku melakukan penghapalan ulang sampai berkali-kali. Aku merasa juz ini sangat berbeda. Aku mencoba melakukan penafsiran seadannya terhadap juz itu, tetapi hingga waktu zhuhur masuk, juz itu tidak lancar juga. Aku semakin penasaran, setelah sholat zhuhur aku menghapal ulang lagi, dan hingga waktu ashar tiba, juz itu belum juga lancar. Selalu saja ada yang menyangkut bahkan banyak. Aku melanjutkannya setelah sholat Ashar, namun entah dosa apa yang menjadikan juz itu tidak mau singgah di hatiku, aku gagal hingga gelap menyelimuti semesta. Baru, ketika hari telah berganti, juz itu masuk ke dalam hatiku. Subhanallah…
Pada hari ke 56, hari itu adalah hari pengulangan, bukan hari menambah hapalan, tetapi karena aku merasa pengulangan sudah cukup banyak hingga tidak khawatir akan lupa, aku pergunakan hari itu untuk menambah hapalan yang ketika itu hanya tersisa 2 juz lagi, yaitu juz 29 dan juz 30. Alhamdulillah pagi itu aku berhasil menghapal 2 juz sekaligus, dan itu menandakan aku telah khotam. Air mata yang rindu akan hari itu, meleleh pelan dari mataku yang sembab seolah mengucapkan selamat. Tiada ungkapan ketika itu selain syukur. Aku melihat matahari dhuha, dedaunan dan ranting pepohonan seolah mengalungkan bunga kepadaku. Aku bersujud.
Ya Rabb, berilah aku kemampuan untuk mensyukuri nikmatmu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, berilah aku kesempatan untuk mengerjakan amal-amal sholeh yang Engkau ridhoi, dan masukanlah aku dengan kasih sayangMu ke dalam hamba-hambaMu yang sholeh.
Aku teringat dengan sabda Rasulullah SAW ketika pulang dari perang Badar: “Kita pulang dari jihad yang kecil menuju jihad yang besar”. Para shohabat bertanya: “Apa itu jihad besar, ya Rasulallah?”. Rasulullah bersabda: “Jihad nafsu”. Aku merasa hari di mana aku mengkhatamkan Al-Quran seperti hari kepulangan dari perang badar. Suatu kemenangan yang tidak dapat diukur dengan apa pun di dunia ini. Tetapi aku harus menganggap bahwa jihadku dalam menghapal al-Quran selama 56 hari itu adalah jihad kecil, dan jihad yang besar tengah menantiku di depan sana, yaitu jihad menjaga hapalan di dalam hati sampai ajal menjemput.
Setelah rehat sedikit, aku segera mengulang hapalan dengan bacaan tartil dimulai dari juz 29 dan 30 kemudian berputar ke juz 1 hingga khatam kembali di juz 30 pada hari ke 60, yakni empat hari setelah hari aku mengkhatamkan hapalan.
Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamith Thoriq. Walhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.
Share this article :

Poskan Komentar

Silahkan anda bertanya atau mengomentari tulisan di atas, cantumkan email anda.

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Rumah Qurani Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger